Rintihan Tangis dalam Istana Megah

Rintihan Tangis dalam Istana Megah

Rintihan Tangis dalam Istana Megah

Rintihan Tangis dalam Istana Megah
Rintihan Tangis dalam Istana Megah

Aku merasa menjadi orang yang paling bahagia…
Lulus SMA dengan nilai total 50,80 dari 6 pelajaran…
Diiringi dengan dapatnya PMDK di Institut Pertanian___…
Beasiswa di Guna___…
Lolos tes wawancara tahap 1 di Sekolah Tinggi Ilmu ___…
dan lain-lainnya…
Yang sesungguhnya aku bisa dengan mudahnya menunjuk ingin kuliah dimana…

Ternyata kebahagiaanku cukuplah sampai disitu..
Kesedihan yang kini mulai bertubi-tubi berdatangan…
Aku tidak dapat menunjukkan suatu pembuktian…
mendapatkan nilai yang cukup fantastis…
dengan meraih peringkat 10 besar di sekolahku…
Kepada satu-satunya orang yang selalu memarahiku ketika belajar…
ketika selalu mendapatkan nilai terburuk…

Kini saatnya aku mampu mengubah nilaiku…
dengan belajar yang begitu gigihnya…
Harus menerima kenyataan…
ia telah pergi tanpa sudi melihat hasil kerja kerasku…
demi mendapatkan nilai terbaik…
Bahkan mampu mendapatkan nilai yang lebih baik…
dari orang yang selalu ia bangga-banggakan…
kepada semua orang yaitu kakakku…

Aku harus berberat hati menolak semua Universitas…
yang senantiasa membuka gerbangnya lebar-lebar…
untuk menerimaku menjadi mahasiswa yang menuntut ilmu…
hingga gelar sarjana dapat ku raih…

Entah bagaimana aku harus meminta maaf kepada SMA-ku…
yang sudah berusaha mendapatkan PMDK di Institut Pertanian ___ untukku…
yang mungkin PMDK institut Pertanian ___ pada tahun mendatang…
akan mengurangi jumlah siswa PMDK di SMA-ku…

Keterbatasan dana yang kini mulai bicara…
Kepala keluarga yang seharusnya bertanggung jawab atas semua ini…
telah pergi entah kemana…
yang hanya dapat mengunjungiku ketika ku bermimpi…

Tidak ada lagi yang bisa ku perbuat…
kecuali menyetujui suatu kesepakatan…
bahwa aku harus menyelesaikan studi-ku…
di tempat sang “kepala keluarga” itu dilahirkan…

Istana megah yang rupanya telah menantiku…
yang terdapat didalamnya 3 orang yang sangat baik…
yang menyayangiku…
Mereka malaikat bagiku…
Namun ada lagi 1 orang…
yang entah harus kunamai malaikat atau bukan..
yang jelas karenanya…
kesedihanku makin berapi-api…
(sungguh tragis bukan??)

Aku harus berkompetisi “lagi”…
untuk menentukan kampus mana yang akan mau menerimaku “lagi”…
Rupanya keridoan Allah yang kini bicara…
Hingga pada akhirnya aku harus lebih memilih Bina Sarana ___…
daripada Institut Pertanian ___, Guna___, dan lain-lainnya…

Ku rasa memang ini merupakan bagian dari perjalanan hidupku…
Hingga “mau tidak mau” dan “sebisa mungkin” aku “harus” berusaha “ikhlas”…
menjalani setiap hari-hariku…
di istana dan kampuz itu…

Hari demi hari mulai berganti…
Aku menyukai kuliah di kampus itu…
Teman-teman disana sangat baik kepadaku…
Dosen-dosen mengenalku karena keberanianku…
untuk bicara, tunjuk tangan dan lain-lainnya…
Hingga pada akhirnya aku mampu mendapat IPK 3,7 sekian,,,sekian,,,sekian….
IPK yang paling tinggi di kelas…
Bahkan harusnya aku mendapatkan hadiah dari kampus itu…
Namun????????
hmmmmmmm…..

Lantas,,, bagaimana keadaanku di Istana itu???
Tidak ada 1 pun orang yang dapat membayangkannya…
Setiap detik bagai 1 tahun bagiku…
Mengapa????
Ketakutan,,,Rintihan,,,Tagisan,,,detakan jantung yang tak henti-hentinya mengunjungi…
disetiap detik hari-hariku…

1 orang itu,,,
ya dia…
mungkin harus ku namai ” peri” agar tidak menyakiti perasaannya…
sesungguhnya aku menyayanginya…
Namun,,, ketika ia marah???
hmmmmmm

Aku baru kali ini menemukan orang yang seseram itu…
yang mungkin suatu saat nyawaku yang akan menjadi taruhannya..
Aku selalu mencari jalan yang ku rasa aman…
agar ku tak terlihat oleh mata indahnya…
Namun perjuanganku itu terkadang sia-sia…’

Sumber : https://balikpapanstore.id/