PROSEDUR AUDIT ASET TETAP

PROSEDUR AUDIT ASET TETAP

PROSEDUR AUDIT ASET TETAP

PROSEDUR AUDIT ASET TETAP
PROSEDUR AUDIT ASET TETAP
1. Pelajari dan evaluasi internal control aset tetap. Beberapa ciri internal control yang efektif untuk aset tetap:
  • Setiap penambahan dan penarikan aset tetap harus diotorisasi oleh pejabat yang berwenang
  • Setiap penambahan aset tetap harus disesuaikan dengan anggaran.
  • Adanya kebijakan yang jelas dan tertulis tentang capitalization dandepreciation policy.
  • Perusahaan mempunyai sub buku besar aset tetap yang mencantumkan data-data aset tetap, diantaranya: tanggal pembelian aset tetap, nama supplier, harga perolehan, metode penyusutan, jumlah penyusutan, akumulasi penyusutan dan nilai buku aset tetap
  • Dilakukannya inventarisasi/pemeriksaan yang rutin terhadap aset tetap, untuk mengetahui keberadaan dan kondisi dari aset tetap tersebut.
  • Bukti-bukti kepemilikan aset tetap disimpan ditempat yang aman.
  • Aset tetap diasuransikan oleh perusahaan dengan jumlah/nilai pertanggungan (insurance coverage) yang wajar.

 

2. Minta kepada klien Top schedule dan Supporting schedule aset tetap, sehingga dapat dilihat berapa saldo awalnya, berapa penambahan/pengurangannya dan berapa saldo akhir dari aset tetap tersebut.
3. Periksa footing dan cross footing serta cocokkan totalnya dengan general ledger atau sub ledger, saldo awal dengan working paper tahun lalu.
4. Apakah setiap penambahan dan pengurangan dari aset tetap dilengkapi dengan supporting document, termasuk otorisasinya.
Contoh Pencatatan terhadap pengurangan aset tetap :
Mesin pabrik dengan cost Rp 200.000.000,- dan jumlah akumulasi penyusutan terakhir Rp 175.000.000,- dijual dengan harga Rp 35.000.000,-
Pencatatan seharusnya adalah:
[D] Kas                                            Rp   35.000.000
[D] Akumulasi Peny. Mesin               Rp 175.000.000
          [K] Mesin                                                                 Rp 200.000.000
          [K] Laba Penjualan Aset Tetap                                    Rp  10.000.000
5. Lakukan pemeriksaan fisik terhadap aset tetap tersebut untuk melihat kondisinya apakah masih layak dan penilaiannya wajar.
6. Periksa bukti kepemilikan aset tetap.
Contoh :
– Tanah – Sertifikat tanah
– Gedung – Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan Surat Izin Penempatan Bangunan (SIPB)
– Kendaraan bermotor – BPKB dan STNK
7. Periksa apakah capitalization policy sudah benar dan depreciation policydijalankan secara konsisten dengan tahun sebelumnya.
8. Analisis tentang perkiraan Repair and Maintenance, sehingga dapat diketahui apakah ada pengeluaran yang seharusnya masuk capital expenditure, dicatat sebagai revenue expenditure.
9. Periksa apakah aset tetap sudah diasuransikan dengan nilai pertanggungan yang cukup.
10. Periksa notulen rapat, perjanjian kredit, konfirmasi bank, untuk mengetahui apakah ada aset tetap yang dijadikan sebagai jaminan.
11. Periksa apakah ada komitmen-komitmen yang dibuat perusahaan untuk membeli/menjual aset tetap.
12. Jika ada contsruction in process, periksa ketepatan nilai pertambahan yang ditransfer ke aset tetap.
13. Jika ada aset tetap yang diperoleh melalui leasing, periksa lease agreement-nya dan apakah pencatatannya sudah sesuai dengan SAK.
14. Periksa apakah penyajiannya sudah sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum, misal: ketentuan penyajian baik di neraca, laba-rugi maupun catatan atas laporan keuangan.