Pengertian Pembahuruan Hukum Islam

Pengertian Pembahuruan Hukum Islam

Pengertian Pembahuruan Hukum Islam

Pengertian Pembahuruan Hukum Islam
Pengertian Pembahuruan Hukum Islam

Pembaharuan hukum Islam terdiri dari dua kata, yaitu “pembaharuan” yang berarti modernisasi atau suatu upaya yang dilakukan untuk mengadakan atau menciptakan suatu yang baru; dan “hukum Islam”, yakni kumpulan atau koleksi daya upaya para fukaha dalam bentuk hasil pemikiran untuk menerapkan syariat berdasarkan kebutuhan masyarakat. Dalam hal ini hukum Islam sama dengan fiqh, bukan syariat.

Sejarah Perkembangan Hukum Islam

Sebelum penulis membahas pembaharuan hukum Islam di Indonesia, perlu diketahui historitas pertumbuhan dan perkembangan hukum Islam dari masa kemasa.

1. Pada Masa Rasulullah (610M – 632M)
Dengan diturunkanya wahyu kepada Nabi Muhammad SAW mulailah tarikh tasyri’ Islami. Sumber tasyri’ Islami adalah wahyu (Kitabullah dan Sunnah Rasul). Ayat tasyri’ datang secara berangsur-angsur dan bertahap (tadrij).tadrij ini berhubungan dengan adat-adat bangsa Arab meninggalkan adat-adat yang lama dengan hukum yang baru/hukum Islam.dan dijadikan prinsip-prinsip umum.

2. Pada masa Khulafa’ur Rasyidin (632M – 662M)
a) Abu Bakar Ash-Shiddiiq
Pada masa ini disebut masa penetapan tiang-tiang (da’aa’im) dengan memerangi orang-orang yang murtad mutanabbi dan pembangkang penyerahan zakat. Di masa ini pula dikumpulkan Al-Qur’an pada satu mushaf.

b) Umar Bin Khatab
Pada masa ini telah bisa menyusun administrasi pemerintahan menetapkan pajak. kharaj atas tanah subur yang dimiliki oleh orang non muslim, menetapkan peradilan, perkantoran, dan kalender penanggalan.

Umar dikenal sebagai imamul-mujtahidin. Di masanya beliau berijtihad, antara lain tidak menghukum pencuri dengan potong tangan karena tidak ada illat untuk memotongnya dan tidak memberi zakat kepada al-muallafatu quluubuhum, karena tidak ada ‘illah untuk memberinya. Baca juga: PPKI

c) Utsman bin Affan
Pada zamannya telah diperintahkan Zaid Ibn Tsabit dan Abdullah Ibn Zubair. Sa’iid Ibn Al-Ash dan Abdurrahman Bin Harits untuk mengumpulkan Al-Qur’an dengan qiraah (dialek) yang satu dengan mushaf satu macam pula pada tahun 30 H./650M.

d) Ali bin Abi Thalib
Dengan wafatnya Sayyidina Ali, berakhirlah masa Khulafa’ur-Rasyidin dalam perkembangan tasyri’ Islam.

Pada masa ini sumber tasyri’ Islam adalah Al-Qur’an dan Sunnah Rasul yang disebut dengan nash atau naql,apabila ada masalah yang tidak jelas dalam nash,para sahabat pada zaman Khulafa’ur-Rasyidin,memakai ijtihad dengan berpegang kepada ma’quul an-nash dan mengeluarkan ‘illah atau hikmah yang dimaksud dari nash itu,kemudian menerapkan pada semua masalah yang sesuai dengan ‘illahnya dengan ‘illah pada yang dinash untuk mendapatkan hukum yang dicari,yang disebut dengan al-qiyaas,jika hukum yang dicari tidak ada nashnya,maka para sahabat bermusyawarah,yang disebut dengan al-ijmaa’. Para Ulama’ menyebutkan bahwa dari praktek khulafa’ur-Rasyidin itu terdapat perluasan dasar tasyri’ Islam disamping Al-Qur’an dan As-Sunnah terdapat juga Al-Qiyaas dan Al-Ijmaa’.