Pengertian Muzara’ah dan Mukhabarah

Pengertian Muzara’ah dan Mukhabarah

Pengertian Muzara’ah dan Mukhabarah

Pengertian Muzara’ah dan Mukhabarah
Pengertian Muzara’ah dan Mukhabarah

Arti Muzaro’ah

Muzara,ah ialah Paroan sawah atau ladang, seperdua, sepertiga, atau lebih atau kurang, sedangkan benihnya dari petani (orang) yang menggarap sawah atau ladang
Adapun dasar aturan dari Muzara’ah, sebagaimana hadits Rasulullah saw :
Hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar:

جرخيامرطشبربيخلهألماعملسوهيلعللهالصىبنلانأرمعنبإنع عرزوأمثنماهنم
Artinya:”Dari Ibnu Umar berkata “Rasullullah mempersembahkan tanah Khaibar kepada orang-orang Yahudi dengan syarat mereka mau mengerjakan dan mengolahnya dan mengambil sebagian dari hasilnya”.
Hadist yang diriwayatakn oleh Imam Bukhori dari Abdillah
دوهيلا ربيخىطعأملسوهيلعللهالصلوسرلاقهنعللهاىضرللهادبعنع اهنمجرخامرطشمهلواهوعرزيواهولمعينأىلع
Artinya:“Dari Abdullah RA berkata: Rasullah sudah mempersembahkan tanah kepada orang Yahudi Khaibar untuk di kelola dan ia mendapat belahan (upah) dari apa yang dihasilakn dari padanya.”
Hadist-hadist tersebut di atas membuktikan bahwasannya bagi hasil Muzara’ah diperbolehkan, alasannya ialah Nabi SAW sendiri pernah melakukannya.

Arti Mukhabarah

Sedangkan mukhabarah ialah mengerjakan tanah (orang lain) menyerupai sawah atau ladang dengan imbalan sebagian karenanya (seperdua, sepertiga atau seperempat). Sedangkan biaya pengerjaan dan benihnya ditanggung pemilik tanah
Masalah Mukharabah para ulama tidak sama pendapat. Sebagian ulama melarang paroan tanah semacan ini, mereka beralasan pada beberapa hadits yang melarang paroan tersebut diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan muslim :

عَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيْجِ قَالَ كُنَّااَكْثَرَاْلاَنْصَارِ حَقْلاً فَكُنَّا نُكْرِىاْلاَرْضَ عَلَى اَنَّ لَنَا هَذِهِ فَرُبَمَا أَخْرَجَتْ هَذِهِ وَلَمْ تُخْرِجْ هَذِهِ فَنَهَانَاعَنْ ذَلِكَ
Artinya:
Berkata Rafi’ bin Khadij: “Diantara Anshar yang paling banyak memiliki tanah ialah kami, maka kami persewakan, sebagian tanah untuk kami dan sebagian tanah untuk mereka yang mengerjakannya, kadang sebagian tanah itu berhasil baik dan yang lain tidak berhasil, maka oleh karenanya Raulullah SAW. Melarang paroan dengan cara demikian.(HR.Bukhari)
Sedangkan ulama yang membolehkan dan tidak ada halangan, juga berdasar pada hadits Rasulullah. Dan pendapat ini dikuatkan oleh Imam An-Nawawi, Ibnu Munzir, dan khattabi. Mereka mengambil alasan dari hadits Ibnu Umar :

عَنْ اِبْنِ عُمَرَاَنَّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَلَ أَهْلَ خَيْبَرَ بِشَرْطِ مَايَخْرُجُ مِنْهَا مِنْ ثَمَرٍ اَوْزَرْعٍ (رومسلم)
Artinya:
Dari Ibnu Umar: “Sesungguhna Nabi SAW. Telah mempersembahkan kebun kepada penduduk khaibar semoga dipelihara oleh mereka dengan perjanjian mereka akan didiberi sebagian dari penghasilan, baik dari buah – buahan maupun dari hasil pertahun (palawija)” (H.R Muslim)

Adapun hadits yang melarang, maksudnya “Apabila penghasilan dari sebagian tanah ditentukan mesti kepunyaan salah seorang diantara mereka”. Karena memang insiden di masa lampau itu mereka memarohkan tanah dengan syarat akan mengambil penghasilan dari sebagian tanah yang lebih rindang, persentase masing-masing pun tidak diketahui. Keadaan inilah yang dihentikan oleh Rasullah saw., Sebab pekerjaan itu bukanlah dengan cara yang adil dan insaf. Pendapat ini pun dikuatkan dengan alasan bila dipandang dari segi kemaslahatan dan kebutuhan orang banyak. Memang jikalau kita selidiki hasil dari adanya paroan ini terhadap umum, sudah tentu kita akan lekas mengambil keputusan yang sesuai dengan pendapat yang kedua ini.

Rukun-rukun dalam Akad Muzara’ah

Ijab qabul (akad)
Penggarap dan pemilik tanah (akid)
Adanya obyek (ma’qud ilaih)
Harus ada ketentuan bagi hasil.

Baca Juga: