Pendidikan-wanita-dan-kesuksesan-mereka-Menguasai-ujian-bahasa-Indonesia-yang-sulit

Pendidikan wanita dan kesuksesan mereka | Menguasai ujian bahasa Indonesia yang sulit

Kita tahu bahwa budaya membaca di Indonesia termasuk yang paling rendah. Memang, membaca adalah inti dari pendidikan.

Belum lagi perkembangan teknologi yang telah mengubah banyak kebiasaan, termasuk penggunaan perangkat oleh anak-anak misalnya.

Sehingga berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap minat baca anak.

Sangat mudah untuk melihat bahwa anak-anak menghabiskan lebih banyak waktu bermain game daripada membaca di depan ponsel mereka, bukan?

Menciptakan “kebiasaan membaca” pada siswa, apa saja tipsnya?

Kalaupun sekolah mampu mendirikan perpustakaan yang nyaman, sepertinya tidak bisa membuat siswa betah berlama-lama di sana.

Oleh karena itu, upaya harus dilakukan untuk mencapai keseimbangan antara keberadaan perpustakaan yang baik dan kesenangan membaca siswa.

Dapatkan informasi, inspirasi, dan wawasan di email Anda.
email pendaftaran

Berdasarkan pengamatan Kompasianer I Ketut Suweca, setidaknya ada 4 tips sederhana yang dapat membantu kepala sekolah, guru, dan pengelola perpustakaan membangkitkan minat baca.

Pertama, tulisnya, guru bisa menjadi panutan agar siswa mau mengikutinya.

“Jika guru ingin mendorong siswa untuk membaca, ia harus berusaha memberi contoh dalam hal ini,” jelas Kompasian I Ketut Suweca. (Lanjut membaca)

Pendidikan wanita menyebar seperti permadani tanpa batas

Pendidikan secara umum, tetapi juga pendidikan perempuan, telah menyebar seperti karpet tanpa batas.

Kepada perempuan, tulis Kompasian Rini SDT, sebagai sosok yang menjadi tumpuan harapan untuk merajut batas-batas lanskap pendidikan.

Seorang ibu diharapkan memiliki kesadaran akan batas-batas pendidikan perempuan, baik secara logika maupun emosional.

Bacaan apa yang harus disajikan sejak kecil. Bicaralah dari hati ke hati saat memilih pasangan untuk putrinya.

Pendidikan seperti apa yang harus dikembangkan oleh putrinya.

“Agar tidak ada korban duka dan kecewa, baik untuk diri sendiri maupun untuk keluarga maupun untuk negara. Ketika perempuan menikmati pendidikan seluas-luasnya dan menyatakan: Saatnya memikirkan kesuksesan,” tulis Kompasian Rini SDT. (Lanjut membaca)

  1. Mengapa tes bahasa Indonesia jarang mendapat nilai 100?

Manakah dari 3 mata pelajaran yang diujikan sebagai prasyarat akhir yang paling sulit? Matematika? Bahasa Inggris? Atau bahasa Indonesia?

“Dulu, jarang sekali siswa yang mendapat nilai 100 dalam bahasa Indonesia dalam tiga kali ujian. Kalau soal matematika, ada banyak. Inggris, beberapa. Bahasa Indonesia? Jarang, ”tulis komposer Edward Horas.

Mengapa itu terjadi? Apakah kebanyakan orang memandang pelajaran bahasa Indonesia sebagai pelajaran yang “biasa” sehingga kurang mendapat perhatian?

“Bahkan di SMA pun ada kepercayaan bahwa siswa yang masuk kelas bahasa adalah yang belum bisa berhitung (IPA) dan menghafal (IPS),” lanjutnya.

LIHAT JUGA :

https://indi4.id/
https://connectindonesia.id/
https://nahdlatululama.id/
https://www.bankjabarbanten.co.id/
https://ipc-hm2020.id/
https://sinergimahadataui.id/