PELAKSANAAN BUDIDAYA BUAH NAGA

PELAKSANAAN BUDIDAYA BUAH NAGA

PELAKSANAAN BUDIDAYA BUAH NAGA

 

PELAKSANAAN BUDIDAYA BUAH NAGA
PELAKSANAAN BUDIDAYA BUAH NAGA

Persiapan Lahan

Setelah lokasi penanaman ditentukan serta melakukan pengukuran terhadap derajat keasaman tanah (pH tanah) maka dilanjutkan persiapan lahan untuk budidaya. Persiapan tersebut mencakup pemasangan tiang panjatan, pembersihan lahan, serta pengolahan lahan.
Buah naga merupakan tanaman merambat sehingga selama penanamannya dibutuhkan tiang panjatan untuk menopang pertumbuhan batang maupun cabangnya. Bentuk serta model tiang panjatan ada dua macam, yaitu bentuk tunggal dan bentuk kelompok atau pagar. Tiang panjatan harus dipastikan kuat sehingga mampu bertahan selama beberapa tahun karena tanaman buah naga tergolong tanaman berumur panjang.

1. Tiang Panjatan Buah Naga Bentuk Tunggal

Tiang panjatan bentuk tunggal bisa menggunakan tiang buatan dari beton atau tiang panjatan hidup dengan memanfaatkan batang tanaman hidup. Tiang panjatan tunggal dapat digunakan untuk menopang empat tanaman yang berproduksi dengan produktifitas rata-rata 3 kg per-tanaman. Para petani biasanya menggunakan tiang panjatan terbuat dari beton atau pipa PVC. Bentuk tiang panjatan bisa persegi, bulat, segitiga atau bentuk lain sesuai selera petani. Untuk tiang panjatan berbentuk persegi dibuat berukuran 10 cm x 10 cm, bentuk bulat dibuat berdiameter 10 cm, sedangkan bentuk segitiga dibuat dengan panjang sisi 15 cm. Tinggi tiang panjatan antara 1,5-2 meter. Jika jarak tanam 2,5 m x 2 m, setiap tiang panjatan ditanami 4 tanaman, maka untuk lahan seluas 1 ha dibutuhkan sekitar 2.000 tiang panjatan dan 8.000 bibit tanaman.
Alternatif lain selain menggunakan tiang beton, petani bisa menggunakan tiang panjatan hidup, yaitu memanfaatkan batang pohon hidup, misal tanaman angsana, jati, jaranan, atau Clerecedae. Artinya tiang panjatan berupa tanaman hidup yang memiliki perakaran cukup dalam, tanaman tersebut juga harus tahan pemangkasan berat karena tanaman buah ini harus terkena sinar matahari langsung agar bisa berproduksi secara optimal. Oleh karena itu, tiang panjatan hidup harus sering dipangkas apabila sudah menutupi batang maupun cabang tanaman. Tiang panjatan hidup harus memiliki tinggi minimal 2 m, berdiameter minimal 10 cm karena jika diameter kurang dari 10 cm dikhawatirkan tidak kuat menopang pertumbuhan tanaman buah ini. Penggunaan tiang jenis ini lebih menghemat biaya daripada tiang beton meskipun tidak sekuat dan tahan lama seperti tiang beton. Namun demikian, adanya tiang panjatan hidup juga membutuhkan tambahan pupuk sehingga juga akan menambah biaya pemeliharaan.

2. Tiang Panjatan Buah Naga Bentuk Kelompok (Double Rowing)

Berbeda dengan tiang panjatan tunggal, model tiang panjatan double rowing pada budidaya buah naga mirip tiang penjemur pakaian. Dalam hal ini, tiang panjatan tersebut bisa digunakan sebagai tempat rambatan lebih dari satu tanaman. Kelebihan dari tiang panjatan kelompok adalah biaya pembuatannya lebih murah serta teknik pembuatannya juga lebih efisien jika dibanding tiang panjatan tunggal, karena bisa digunakan sebagai tempat rambatan untuk banyak tanaman. Namun, tiang panjatan kelompok ini juga memiliki kelemahan yaitu perawatannya sulit karena cabang tanaman buah ini bisa saling terkait satu sama lain serta kurang tahan terhadap berat beban tanaman lebat.

3. Pembersihan Lahan

Pembersihan lahan perlu dilakukan agar proses penanaman maupun persiapan tidak mengalami kesulitan. Rimbunan semak maupun pohon kecil di lahan dipotong sampai pangkal batang atau dapat dicabut sampai ke akarnya agar tidak tumbuh kembali. Sementara bagian cabang maupun ranting pohon besar dipotong sampai pangkal cabang atau ranting. Gulma di lahan juga harus dibersihkan dengan cara dicangkul tipis-tipis.

Baca Juga: Budidaya jamur tiram

4. Pengolahan Lahan dan Pemupukan Dasar

Setelah bersih, lahan kemudian dicangkul di sekitar daerah penanaman buah naga. Pencangkulan bertujuan memecah tanah menjadi agregat-agregat kecil serta membalik tanah agar aerasi tanah menjadi lebih baik. Selain itu pecangkulan juga bertujuan agar lapisan tanah bawah bisa tercampur dengan lapisan tanah atas sehingga penyebaran humus atau bahan organik bisa merata ke seluruh lapisan tanah. Tanah menjadi gembur, subur, sehingga akar tanaman dapat menyerap unsur hara secara sempurna.

Lahan bernilai pH tanah di bawah 6 harus dilakukan pengapuran (dosis 1,2 ton/ha ditabur merata ke seluruh lahan). Selanjutnya pembuatan lubang tanam sesuai model tiang panjatan yang digunakan.
Untuk penanaman buah naga sistem panjatan tunggal, pengolahan tanah hanya dilakukan di sekitar tiang panjatan saja. Buat lubang tanam di sekitar tiang panjatan berukuran 40 cm x 40 cm, kedalaman lubang kurang lebih 30 cm. Masukkan media tanam ke dalam lubang tanam, terdiri dari campuran tanah, pupuk kandang, pasir/sekam bakar dengan perbandingan 1:1:1. Setelah itu lakukan penyiraman media tanam hingga basah, lalu biarkan terkena sinar matahari selama satu minggu. Agar pertumbuhan maupun produksi tanaman buah naga optimal, berikan asam humat dan asam fulvat. Tambahkan juga agensia hayati, seperti fungisida/bakterisida organik untuk mencegah serangan penyakit setelah penanaman. Langkah selanjutnya adalah membuat drainase berupa parit diantara baris tanaman. Pembuatan drainase bertujuan menampung kelebihan air saat musim hujan.