Menyeleksi Guru Generasi Alpha

Menyeleksi Guru Generasi Alpha

Menyeleksi Guru Generasi Alpha
Menyeleksi Guru Generasi Alpha

Pemerintah, melalui Kementerian PAN-RB, secara resmi telah mengumumkan formasi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) tahun 2018. Total formasi yang tersedia untuk diperebutkan oleh pelamar berjumlah 238.015 yang terdiri dari 51.271 Instansi Pusat (76 Kementerian/lembaga) dan 186.744 (525 Instansi Daerah). Sebagian besar dari formasi itu disediakan untuk guru. Ada 88 ribu formasi untuk guru kelas maupun mata pelajaran melalui formasi Instansi Daerah. Angka ini belum termasuk 12.000 formasi guru madrasah yang dibuka melalui Kementerian Agama.

Angka ini memang belum sebanding dengan kebutuhan jumlah guru PNS di lapangan. Mendikbud Muhadjir Efendy pernah menyampaikan bahwa kekurangan guru PNS di sekolah negeri hampir menyentuh angka satu juta orang. Meskipun demikian formasi guru yang mencapai angka 100.000 ini bisa menjadi oase bagi kekurangan guru yang terjadi selama ini.

Kekurangan guru berpengaruh secara langsung terhadap capaian kualitas pendidikan. Kualitas pendidikan yang rendah menyebabkan rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM). Di tengah perkembangan era disrupsi dan revolusi industri 4.0, SDM berkualitas rendah tidak mungkin memiliki daya saing yang tinggi. Ini bisa menjadi sinyal bahaya bagi perkembangan masa depan bangsa dan negara di tengah percaturan global, khususnya menghadapi era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Dalam konteks ini, pengangkatan CPNS guru bisa menjadi solusi. Minimal solusi jangka pendek dengan tertutupnya kekurangan guru. Selama ini kekurangan guru ditutup oleh keberadaan guru honorer. Namun, dikarenakan perhatian yang rendah dari pemerintah, guru honorer tidak memiliki kesejahteraan yang memadai untuk bekerja secara profesional. Sebaliknya kesejahteraan guru honorer ini sangat memprihatinkan. Mereka memiliki beban kerja yang sama dengan guru PNS, tetapi tidak mendapatkan apresiasi yang setimpal dengan pekerjaannya. Akibatnya penyelenggaraan pendidikan menjadi jauh dari harapan.

Ada syarat yang harus dipenuhi agar pengangkatan 100.000 CPNS bisa menjadi harapan baru untuk mendongkrak mutu pendidikan. CPNS guru yang lolos seleksi harus memiliki kompetensi yang dibutuhkan pada saat ini hingga puluhan tahun ke depan. Guru yang dibutuhkan adalah guru yang mampu mendidik generasi yang tinggal di tengah perkembangan era disrupsi dan revolusi industri 4.0.

Saat ini terjadi kesenjangan yang luar biasa antara SDM guru dengan karakteristik peserta didik.

Guru dan peserta didik memiliki karakteristik di masa yang sangat berbeda. Rata-rata guru PNS yang masih aktif saat ini merupakan generasi X yang lahir antara tahun 1961-1980. Generasi X memperoleh pengalaman pendidikan dari generasi Baby Boomers yang cenderung kolot, antikritik, dan belum mengenal teknologi informasi. Meskipun hidup dan berkembang di era generasi X, pengaruh para pendidik Baby Boomers terekam sangat kuat dalam cara berpikir dan bertindak guru-guru generasi X. Mereka masih akrab dengan pola pikir pembelajaran lama yang cenderung berpusat pada guru, berbasis konten, dan tekstual.

Pola pikir ini bertolak belakang dengan karakteristik generasi yang sedang menempuh pendidikan saat ini. Mereka adalah generasi yang lahir setelah tahun 2010. Para ahli psikologi sosial menyebutnya sebagai generasi A (Alpha). Mereka sudah bersentuhan dengan teknologi canggih sejak lahir, memiliki pola pikir terbuka, transformatif, dan juga inovatif.

Kesenjangan antara pola pikir guru dengan karakteristik generasi yang menjadi peserta didiknya harus dipersempit. Jika tidak, guru tidak akan mampu memfasilitasi peserta didik dalam memenuhi kebutuhan pendidikan mereka. Saya membayangkan bahwa dalam dunia generasi A ini, buku tidak lagi dibutuhkan dalam proses pembelajaran. Mereka tidak akan bisa membaca buku yang berupa lembaran-lembaran kertas yang berjilid-jilid. Mereka akan lebih suka membaca aplikasi buku elektronik yang berisi jaringan dengan beragam informasi yang dibutuhkan secara cepat dan beragam. Sementara, guru dituntut agar mampu menyusun buku elektronik, membuat ragam aplikasi pembelajaran, serta mendesain pembelajaran dalam jaringan (daring).

Guru yang mampu memfasilitasi tuntutan karakteristik generasi A inilah yang dibutuhkan

. Guru tidak hanya dituntut untuk mengubah pola pikir dirinya sendiri, tetapi harus meningkatkan kemampuannya agar memiliki kompetensi yang sesuai dengan tuntutan belajar generasi A. Guru seperti inilah yang harus dihasilkan dalam seleksi CPNS tahun ini dan tahun-tahun ke depan.

Digunakannya sistem daring dalam pendaftaran serta penggunaan Computer Assisted Test (CAT BKN) dalam pelaksanaan Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) dan Seleksi Kompetensi Bidang (SKB) minimal menjadi saringan awal. Saat ini tidak sedikit guru yang masih gagap teknologi. Realitas ini dapat diamati pada waktu pelaksanaan Uji Kompetensi Guru (UKG) yang menggunakan sistem daring. Banyak guru yang merasa kesulitan untuk sekedar mengoperasikan komputer. Bahkan ada guyonan setiap kali ada undangan kegiatan peningkatan kompetensi yang mewajibkan membawa laptop, guru-guru berseloroh, “Yang penting bisa membuka (meskipun tidak bisa mengoperasikan).”

Melalui penyaringan dengan menggunakan pendaftaran daring dan CAT,

minimal guru yang terjaring memiliki kemampuan teknologi informasi dan komputer (TIK) yang memadai. Kemampuan dalam menguasai teknologi informasi menjadi kompetensi dasar yang harus dikuasai guru dalam memfasilitasi pembelajaran peserta didik generasi A. Kompetensi dasar ini bisa ditingkatkan dan dikembangkan untuk pengembangan pembelajaran berbasis TIK yang menjadi kebutuhan utama generasi A.

Seleksi CPNS guru merupakan pintu masuk untuk mendapatkan guru-guru yang berkualitas. Melalui sistem seleksi yang berkualitas, akan terjaring SDM guru yang berkualitas pula. Meskipun demikian pintu masuk ini harus diikuti dengan sistem pembinaan guru yang berkualitas. Jika tidak, bibit-bibit CPNS yang rata-rata berusia milenial ini akan larut dalam dunia birokrasi yang formalistis. Akibatnya bukan semangat inovasi dan transformasi yang dibawa, melainkan apatisme yang berpengaruh buruk terhadap kinerja dan profesionalisme sebagai

Baca Juga :