Inovasi Mahasiswa Unair Mudahkan Deteksi Kualitas Air Sungai

Inovasi Mahasiswa Unair Mudahkan Deteksi Kualitas Air Sungai

Inovasi Mahasiswa Unair Mudahkan Deteksi Kualitas Air Sungai

Inovasi Mahasiswa Unair Mudahkan Deteksi Kualitas Air Sungai
Inovasi Mahasiswa Unair Mudahkan Deteksi Kualitas Air Sungai

Go Clever merupakan aplikasi berbasis desktop yang digunakan untuk mendeteksi air sungai apakah layak dikonsumsi atau tidak. Aplikasi tersebut dibuat oleh tiga mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga (Unair). Yaitu Bidayatul Masulah atau Bida, Muhammad Hafiruddin dan Prabowo Subiyanto.

Bida menjelaskan, ide untuk membuat aplikasi Go Clever tersebut berawal dari keresahan mereka terhadap air sungai yang semakin tercemar. Disamping itu, masih banyak masyarakat yang mengonsumsi air dari sungai.

Beberapa daerah sering timbul penyakit akibat mengonsumsi air sungai yang tercemar tersebut

. Untuk itu, perlu dibuat aplikasi deteksi kualitas air sungai untuk menentukan apakah air tersebut layak dikonsumsi atau tidak.

Dalam proses pembuatan aplikasi tersebut, Bida dan tim harus menggali informasi terkait air pada pakar di bidang sumber daya alam. Setelah itu, meminta parameter atau indikator-indikator air layak konsumsi untuk membantu dalam memprogram aplikasi. Parameter tersebut diantaranya adalah nilai pH air, BOD, COD, kandungan kobalt, besi, merkuri, boron dan lain sebagainya.
Baca Juga:

Mahasiswa FPK UNAIR Mandirikan Santri di Ponpes di Sumenep
Maba Bidikmisi UNAIR Ciptakan Kemasan Alternatif Ramah Lingkungan
RS Terapung KA: Satu Tahun Arungi Samudra, Selamatkan Anak Bangsa
Kisah RSTKA Lakukan Operasi di Tengah Goncangan Ombak Pulau Mataalang

Sejauh ini, aplikasi masih diperuntukkan untuk laboran guna menguji kelayakan air

. Caranya dengan menginput nilai hasil penelitian air pada parameter yang tersedia di aplikasi. Kemudian akan keluar hasil berupa kualitas air tersebut akankah layak dikonsumsi atau tidak berdasarkan data yang diinputkan pada kolom parameter.

Tidak hanya menunjukkan kualitas air layak atau tidak. Namun aplikasi juga menunjukkan indikator apakah air tersebut menjadi tidak layak dikonsumsi. Misalnya, nilai merkuri yang terkandung dalam air tersebut terlalu tinggi, sehingga air menjadi tidak layak konsumsi.

Inovasi tersebut mengantarkan Bida dan tim mendapatkan medali perak pada acara Internasional Malaysia-Indonesia-Thailand on Symposium Innovative and Creativity (IMIT SIC) 2019 di Princess of Naradhiwas University, Thailand, pada 16 hingga 18 Juni 2019.

Bida berharap, aplikasi itu bisa mendapatkan dukungan dari berbagai pihak agar manfaatnya

dapat dirasakan oleh semua kalangan. Kedepannya, Bida dan tim akan terus memperbaiki aplikasi agar hasil yang diperoleh semakin akurat.

“Kami juga masih terus berusaha agar aplikasi ini tidak hanya digunakan untuk laboran tapi bisa digunakan oleh masyarakat umum lainnya,” pungkas Bida.

 

Sumber :

https://compass.centralmethodist.edu/ICS/Academics/OTA/OTA107__CM16/SPRG_2017_UNDG-OTA107__CM16_-A/Blog_3.jnz?portlet=Blog_3&screen=View+Post&screenType=next&&Id=889b0356-668f-4260-adb3-adcf5059fd9a