Ikan Hias Redfin Dan Cara Budidayanya

Ikan Hias Redfin Dan Cara Budidayanya

Ikan Hias Redfin Dan Cara Budidayanya

Ikan Hias Redfin Dan Cara Budidayanya
Ikan Hias Redfin Dan Cara Budidayanya

 Ikan Redfin adalah salah satu jenis ikan hias yang memiliki keindahan dari segi warna dan bentuk tubuhnya, maka tedak heran ikan redfin banyak juga penggemarnya. Ikan yang indah ini adalah ikan asli dari negara Vietnam namun sekarang sudah banyak yang membudidayakannya di Indonesia.

Box sterefoam untuk pemeliharaan larva. Box sterefoam diisi sir sehari sebelum dilakukan penjarangan. Pada proses penjarangan juga dilakukan penghitungan agar dapat menentukan derajat penetasan redfin albino. Pada penghitungan di dapat jumlah larva sebanyak 10.125 ekor.  Pada umur 13 hari  larva redfin diberi pakan kutu air.

Pemberian kutu air dilakukan selama 14 hari. Pemberian kutu air berguna untuk penyeragaman ukuran benih. Kutu air  yang diberikan berupa kutu air beku.  Pemberian kutu air sebanyak 4 sendok makan/ hari. Pemberian kutu air dua kali sehari yakni pada pukul 07.00, dan pukul 21.00 WIB. Kutu air diberikan dengan cara melarutkan kutu air terlebih dahulu dengan air. Kutu  air beku yang digunakan harus dilarutkan agar kutu air dapat dimakan oleh larva.

Pengelolaan kualitas air

Dalam pengelolaan kaulitas air yang dilakuakn seperti penyifonan kotoran bekas pakan dan larva yang mati. Pengecekkan  kualitas air dilakukan setiap hari.  Penyifonan hanya dilakukan jika air sudah kelihatan jusam karena sisa pakan. Untuk penambahan air dilakuakn menggunakan selang air kecil berukuran ¼ inch yang langsung dipompa dari tendon.

Pemanenan larva

ikan hias – Larva dipanen atau dipindahkan dari box penetasan ke bak terpal setelah berumur 30 hari, sekaligus dilakukan grading. Larva dipanen dengan cara menggunakan serokan yang halus agar tidak membahayakan pada larva. Larva dipindahkan pada baskom kecil dan dilakukan penggradingan sekaligus penghitungan. Sebelum larva ditebar dlakukan pengecekan aerasi pada bak. Air di dalam bak sudah di isi sehari sebelum dilakukan penebaran. Larva yang sudah degrading langsung ditebar pada 2 buah bak terpal dengan aklimatisasi terlebih dahulu.

Penebaran benih

Larva ditebar ke bak terpal saat mencapai umur 30 hari setelah menetas, atau ketika larva sudah dapat makan cacing. Pemberian pakan sebelumnya berupa kuning telur selama 2 hari, artemia selama 7 hari, dan kutu air (daphnia sp.). penebaran larva dilakukan pada pagi hari pukul 09.00 WIB dengan melakukan aklimatisasi terlebih dahulu untuk penyesuaian suhu air pada bak pendederan. Aklimatisasi yang dilakukan dengan memasukan air kolam ke dalam wadah larva sedikit demi sedikit selama 10-15 menit, dan barulah benih ditebar dilakuakn grading agar tidak terdapat ukuran yang mencolok dalm pemeliharaan. Benih yang ditebar berukuran 1-15 cm.

Pakan selama pendederan berupa cacing cacah yang diberikan pada larva selama 7 hari dan cacing yang tidak dicacah selama 7 hari. Jadi pemberian cacing dilakukan sampai benih dipanen yakni berumur 45 hari yang mencapai ukuran ¾ inch. Frekuensi pemberian pakan 2 kali sehari, pada pukul 08.00, dan 16.00 WIB.

Pemanenan

Pemanenan dilakukan setelah pendederan selama 14 hari pemeliharaan atau benih berumur 45 hari dari telur. Pemanenan dilakukan pada waktu pagi hari pukul 07.00-09.00 WIB bertujuan untuk mengurangi tingkat kematian pada benih, karena stress akibat suhu yang terlalu tinggi. Pemanenan menghasilkan benih ukuran rata-rata ¾ inch. Ciri morfologi yang dapat diamati, bentuk ikan yang telah definitive, gerakan dari kondisi ikan sehat.