Hipotesis Psikologik

Hipotesis Psikologik

Hipotesis Psikologik

Hipotesis Psikologik
Hipotesis Psikologik

Kebanyakan klinisi berpendapat bahwa ada hubungan yang erat antara kejadian-kejadian dalam hidup (life-events) dengan depresi.

Tidak ada tipe kepribadian tertentu yang dapat merupakan pencetus depresi. Namun bentuk kepribadian tertentu seperti tipe obsesi-kompulsif, histerikal lebih banyak didapatkan pada penderita depresi dibandingkan dengan kepribadian antisosial, paranoid dan tipe lainnya yang menggunakan mekanisme pertahanan projeksi.

Karl Abraham berpendapat bahwa manifestasi depresi dicetuskan oleh hilangnya objek libido, sehingga terjadi proses regresi, yaitu kemunduran    fungsi ego dari keadaan fungsi mature ke trauma infantile dari stadium oral sadistic dari perkembangan libido yang berpengaruh karena proses fiksasi pada masa awal anak-anak.

 

Teori structural dari Freud menyatakan bahwa

Introjeksi dari objek yang hilang    menimbulkan ambivalensi, sehingga ego kehilangan energy dan menimbulkan gejala depresi yang khas. Sedangkan super ego tidak mampu melawan kehilangan obyek luar dan melampiaskan hal ini pada ego sebagai introjeksi.

Pada binatang percobaan yang berulang-ulang  diberikan electris shocks dan ia tidak diberikan kesempatan untuk melarikan diri dari keadaan ini, akan terus memperlihatkan tidak ada usaha untuk melarikan diri pada shock berikutnya, walaupun kesempatan melarikan diri diberikan. Menurut teori belajar tidak berdaya (learned helplessness), depresi dapat diperbaiki apabila klinisi dapat membangkitkan penderita depresi mempunyai sense of control dan menguasai lingkungan. Terapi perilaku yang memberikan penghargaan dan dukungan yang positif merupakan usaha yang dapat diandalkan.

Sedangkan menurut teori kognitif, depresi timbul karena adanya misinterpretasi meliputi : distorsi negative   dari pengalaman hidup, penilaian diri yang negative, pesimistis, dan tidak ada harapan.

 

Hipotesis Budaya

Marsella (1980) mengajukan teori budaya berdasarkan atas konsep psikodinamika atau psikologi social. Teori ini berdasarkan atas : struktur keluarga, berkabung, penyesuaian kepribadian (conforming  personality), pertahanan psikologik, ekspresi agresi, dan kegagalan prestasi.

 

Struktur Keluarga

Contoh Teks Laporan Hasil Observasi – Stainbrook (1954) menyatakan bahwa depresi sedikit terjadi pada budaya bukan Barat karena struktur keluarga besar akan mengurangi frustasi pada permulaan hidupnya lewatmultiple mothering (beberapa wanita ikut mengasuhnya) dan mengeneralisasi obyek-obyek yang menarik ke banyak anggota keluarga. Collomb (1967) menyatakan bahwa kurangnya depresi pada budaya bukan Barat oleh karena hubungan yang erat antara anak dan ibu dan periode yang lama membebaskan anak (tidak banyak larangan), yang dapat mengurangi perasaan tidak aman pada masa anak-anak dan ini merupakan keadaan yang dapat mencegah perkembangan kepribadian anak ke tipe depresi.

 

Conforming Personality

Arieti (1959) menduga bahwa depresi terjadi akibat pola mengasuh anak (child-rearing pattern) dan struktur keluarga yang mendorong perkembangan dari penyesuaian kepribadian. Depresi umumnya terjadi pada individu dari masyarakat tingkat tinggi oleh karena ia cenderung menyesuaikan dengan tekanan dari masyarakatnya dan orang tuanya.

 

Social Cohesion

Depresi mungkin berhubungan dengan derajat menyatunya dalam masyarakat. Menyatunya masyarakat menunjukkkan banyaknya anggota masyarakat memiliki orientasi nilai dan tingkat mereka adalah masyarakat atas. Di bawah kondisi ini, dapat diduga depresi terdapat lebih tinggi di antara wanita, anggota kelas masyarakat yang lebih tinggi, dan anggota kelompok social yang bersatu.

 

Pshycological Defenses

Rendahnya angka depresi pada budaya bukan Barat karena mereka sangat patuh pada sangsi masyarakat. Stainbrook (1954)  menyimpulkan bahwa budaya tertentu mungkin menyokong delusi kejar yang digunakan untuk mengurangi resiko rasa bersalah. Menurut Savage dan Prince (196&) penggunaan mekanisme projeksi menyebabkan rendahnya angka depresi pada suku Yoruba di Nigeria.

 

Upacara Berkabung (Mourning Rituals)

Kebanyakan upacara berkabung yang dilakukan pada budaya bukan Barat dapat mengurangi resiko depresi oleh karena orang yang dicintai yang meninggal dianggap tidak hilang, tetapi berpindah tempat. Ada juga yang berpendapat bahwa kematian adalah merupakan kebebasan dari beban hidup di dunia dan kesempatan untuk masuk surga.

 

Ekspresi Agresi

Budaya yang menyediakan penyaluran pengeluaran agresi akan mempunyai angka depresi yang rendah. Sedangkan masyarakat yang damai cenderung memperlihat angka depresi yang meningkat.