Cara Guru ABK Semangati Siswa Jangan Takut Ancaman Bullying

Cara Guru ABK Semangati Siswa Jangan Takut Ancaman Bullying

Cara Guru ABK Semangati Siswa Jangan Takut Ancaman Bullying

Cara Guru ABK Semangati Siswa Jangan Takut Ancaman Bullying
Cara Guru ABK Semangati Siswa Jangan Takut Ancaman Bullying

Anak berkebutuhan khusus (ABK) berhak memperoleh hak pendidikan yang sama. Jika mereka harus menerima perbuatan bullying dari temannya di sekolah, maka pelakunya sungguh tega. Mereka juga berhak bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Karena itu, di sekolah menjadi tanggung jawab para guru untuk terus membimbing para siswa ABK dalam belajar hingga bergaul.

Guru Kelas 3 SLBN 7 Cipinang Besar, Jatinegara, Jakarta Timur, Heri Susanto

mengaku semangat dalam mengajarkan anak-anak berkebutuhan khusus. Dia memahami masih ada saja kasus bullying di tengah masyarakat terhadap para siswa apalagi pada ABK. Heri pun prihatin atas kejadian tersebut.

“Justru asyik menantang mengajar untuk ABK. Mereka itu punya karakter yang berbeda-beda. Kebetulan saya mengajar anak-anak tuna netra, dan mereka tetap semangat ke sekolah,” katanya kepada JawaPos.com.

Heri meminta siswanya untuk tetap optimis dan percaya diri dalam meraih cita-citanya.

Dalam menghadapi bullying, Heri selalu menanamkan rasa percaya diri dengan kemampuan dan bakat yang dimiliki.

“Kita terus menyemangati mereka, kami bimbing terus deh. Selalu memberi arahan terus. Percaya diri itu harus, enggak usah malu atau rendah diri, harus berbaur dengan semua teman,” katanya

Di antara siswanya, tak ada lagi yang menangis atau mengeluhkan kemampuan masing-masing. Meski memiliki keterbatasan tak bisa melihat, Heri tetap mendorong para siswa untuk berusaha bisa melakukan sesuatu dengan mandiri.

“Fase-fase mengeluh itu sudah lewat. Kadang ada anak yang sudah putus asa misalnya enggak

bisa ambil ini itu, akhirnya ngambek. Tapi saya dorong ayo kamu pasti bisa,” jelasnya.

Tak hanya pelajaran akademik, siswa juga diajarkan cara bersikap atau berperilaku yang baik. Salah satunya terkait adab makan.

“Minggu ini, pekan kedua di tahun ajaran baru, kami mulai ajarkan siswa untuk makan sendiri. Harus bisa dulu. Coba dulu. Jangan enggak mau mencoba baru di awal,” katanya.

Hal senada diungkapkan Kepala Sekolah SLBN 7 Andriyastuti. Cara mengajari anak-anak tuna grahita misalnya, guru biasanya menggunakan media khusus untuk melatih sensori gerak mereka agar mau menulis.

“Model pembelajarannya kami modifikasi sedemikian rupa. Saat masuk misalnya mereka belum bisa menulis maka kami menggunakan amplas agar mereka hapal gerakannya. Atau menulis di atas pasir dan cat mainan, barula menulis di buku,” tutup Andriyastuti.

 

Sumber :

https://demotix.com/how-to-prevent-air-and-soil-pollution/