Buku Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan

Buku Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan

Buku Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan

Buku Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan
Buku Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan

Non Probabilitity Sampling

1) Accidental Sampling

Dalam teknik ini pengambilan sampel tidak ditetapkan lebih dahulu. Peneliti langsung mengumpulkan data dari unit sampling yang ditemui. Misalnya, penelitian tentang pendapat umum mengenai pemilu dengan menggunakan setiap warga Negara yang dewasa sebagai unit sampling. Penelitian mengumpulkan data langsung dari setiap 9orang dewasa yang dijumpainnya, sampai jumlah yang diharapkannya terpenuhi.

2) Quota Sampling

Dalam teknik ini jumlah populasi tidak diperhitungkan, tetapi diklasifikasikan dalam beberapa kelompok. Sampel diambil dengan memberikan jatah atau quota tertentu pada setiap kelompok. Pengumpulan data dilakukan langsung pada setiap unit sampling. Setelah jatah terpenuhi, pengumpulan data dihentikan. Misalnya, penelitian dilakukan terhadap ibu rumah tangga sebagai unit sampling untuk mengetahui pendapatnya dalam menghadapi harga pasaran sesuai dengan pendapat suaminya. Untuk itu, keluarga dikelompokkan menjadi beberapa subpopulasi, antara lain : keluarga pegawai negeri, keluarga pengusaha, keluarga buruh, keluarga petani, keluarga nelayan, dan lain-lain. Setelah populasi itu diberikan jatah tertentu walaupun jumlah masing-masing sebagai populasi tidak diketahui. Setiap ibu rumah tangga dari subpopulasi itu dihubungi sebagai sumber data sampai jumlahnya terpenuhi.

Kelemahan teknik ini ialah

para peneliti cenderung akan selalu mencari kemudahan, menghindari hambatan yang mungkin terjkadi sehingga akan memilih sampel orang-orang yang mudah dihubungi, menghindari subjek yang sulit ditemui. Untuk mengantisipasi kelemahan ini dapat dengan menerapkan cara randomisasi dalam penerikan sampel yang sudah ditetapkan jumlahnya misalnya dengan cara undian atau yang lain.

Cara tau bentuk lain dari quota samnpling dalah dimensional sampling. Teknik ini menggunakan dimensi ganda, yakni dengan merinci semua variable (dimensi) yang menarik perhatian seorang peneliti.
Hal yang penting ialah bahwa setiap kombinasi dari dimensi-dimensi tersebut paling sedikit terwakili oleh satu kasus sehingga sacara eksplisit:

1) dapat menggambarkan Universe yang ingin digeneralisasikan,

2) dapat lebih memperjelas apa yang tampaknya merupakan dimensi penting sehingga dapat menyusun suatu tipologi yang mencakup berbagai kombinasi nilai-nilai dari dimensi tersebut,

3) menggunakan tipologi tersebut sebagai kerangka penarikan sampel untuk mena4rik sejumlah kecil sampel yang biasanya menarik satu kasus dari setiap sel sesuai dengan tipolioginya (Bambang Suwarno, 1987 dalam yatim Riyanto, 1996).
Teknik ini biasanya digunakan dan didesain untuk penelitian yang menginginkan sedikit sampel di mana setiap kasus dipelajari secara mendalam. Bahayanya, jika sampel terlalu sedikit, tidak akan mewakili populasi.

Purposive Sampling

Pemilihan sekelompok subjek dalam purposive sampling, didasarkan atas ciri-ciri tertentu yang dipandang mempunyai sangkut paut yang erat dengan populasi yang diketahui sebelumnya. Dengan kata lain, unit sampel yang dihubungi disesuaikan dengan kriteria-kriteria tertentu yang diterapkan berdasarkan tujuan penelitian. Misalnya, suatu penelitian tentang tata tertib lalu lintas di sebuah kota. Sampel yang dipergunakan hanya diambil di antara pemilik kendaraan bermotor yang tercatat di kepolisian atau kepada pemilik SIM. Pengumpulan data yang dilakukan pada unit sampling tertentu, tidak termasuik pengendaraan yang mungkin bukan pemilik kendaraan bermotor atau mungkin tidak memiliki SIM.

Lebih lanjut untuk menentukan sampel perlu

Memperhatikan sifat dan penyebaran populasi. Berkenaan dengan hal itu, dikenalkan beberapa kemingkinan dalam menetpkan sampel dari suatu populaswi, yaitu sebagai berikut.

1. Sampel proposional

Sampel proposional menunjuk kepada perbandingan penarikan sampel dari beberapa subpopulasi yang tidak sama jumlahnya. Dengan kata lain, unit sampel pada setiap subsampel sebanding jumlahnya dengan nilai sampling dalam setiap subpopulasi. Misalnya, penelitian dengan menggunakan murid SMA Negeri sebagai unit sampling yang tetrdiri dari 3000 murid SMA Negeri dan 1500 STM Negeri. Dengan demikian, perbandingan subpopulasi adalah 2: 1. dari populasi itu akan diambil sebanyak 150 murid. Sesuai dengan proporsi setiap subpopulasi, maka harus diambil sebanyak 100 murid SMA Negeri dan 50 muri9d STM Negeri sebagai sampel.

2. Sampel area

Sampel ini memiliki kesamaan dengan asampel proporsional. Perbedaannya terletak pada populasi yang ditetapkan berdasarkan daerah penyebaran populasi yang hendak diteliti. Petrbandingan besarnta suibpopulasi menurut daerah penelitian dijadikan dasar dalam menentukan ukuran setiap subsampel. Misalnya, penelitian menggunakan guru SMP Negeri sebagai uniu sampling yang tersebar di lima kabupaten. Setiap kebupaten memiliki populasi guru sebanyak 500, 400, 300, 200, dan 100. melihat populasi seperti itu, maka perbandingannya dalah 5 : 4 : 3 : 2 : 1. jumlah sampel yang akan diambil sebesar 50, 40, 30, 20, dan 10 orang guru.

3. Sampel ganda

Penarikan ganda tau sampel kembar dilakukan dengan maksud menanggulangi kemungkinan sampel minimum yang diharapkan tidak masuk seluruhnya. Untuk itu, jumlah atau ukuran sampel ditetapkan dua kali lebih baik dari yang ditetapkan. Penentuan sampel sebanyak dua kali lipat itu akan dilakukan terutama apabila alat pengumpulan data yang dipergunakan adalah kuistioner atau angket yang dikkirim melalui pos. dengan mengirim dua set kuisioner pada dua unit sampling yang memiliki persamaan, maka dapat diharapkan salah satu di antaranya akan dikembalikan sehuingga jumlah atau ukuran sampel yang telah ditetapkan terpenuhi.

4. Sampel majemuk

Sampel majemuk ini m,erupakan perluasan dari sam[pel ganda. Pengambilan sampel yang dilakukan lebih dari dua kali lipat, tetap memiliki kesamaan dengan unit sampling yang pertama. Dengan sampel majemuk ini kemungkinan masuknya data sebanyak jumlah sampel yang telah ditetapkan tidak diraguikan lagi. Penarikan sampel majemuk hanya dapat dilakukan apabila jumlah populasi cukup besar (Mama Rachman, 1993 ; 67 dalam S. Margono, 1997 : 130).

 

Sumber : https://www.ilmubahasainggris.com/